Minggu, 26 Agustus 2018

Sepanjang Jalan Kenangan

Sepanjang Jalan Kenangan

Part I: “Namaku Arman”

A
rman, begitu aku memperkenalkan namaku kepada orang-orang yang baru saja kukenal, terkadang diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan lain, seperti “Arman aja?” atau biasanya teman-teman arisan ibu yang biasa datang ke rumah sebulan sekali, “Arman ke mana buk? Wah gak nyangka yah buk sekarang udah SMA aja” sambil tertawa kecil. Padahal ini sudah tiga tahun berlalu, pertanyaan seperti itu masih saja aku dengar, yah begitulah. Lain halnya di sekolah, “Ar” atau “Man” teman-teman kelas biasanya memanggil namaku seperti itu. Sejak SMP aku sudah harus mengenakan kacamata, bukan karena aku suka membaca buku, tapi memang dari sononya, bapakku juga berkacamata.  Rambut klimis disisir ke samping, kumis tipis dengan sedikit jenggot di sekitar dagu. But, it doesn’t mean aku tipe orang yang culun nan kolot. Dengan jumlah siswa yang mencapai seribuan, adalah hal yang mustahil cowok biasa sepertiku populer di sekolah. Bahkan sampai sekarang ini pun, gak ada satu pun siswi SMAN 06 Manggarai yang berani aku dekati. Tapi gak menjadi masalah, selama bapak masih memberi jatah uang jajan, aku masih bisa survive tanpa dunia percintaan. Biasanya uangnya gak langsung kupakai untuk makan-makan di kantin, aku harus nunggu seminggu untuk memastikan duitnya sudah cukup untuk membeli kuota.  Yups, games is everything.
But anyway, sekarang aku lebih bebas. Gak ada lagi yang bangunin pagi-pagi ke sekolah, gak ada yang nanyain PR, Bebas gak harus mikir terlambat masuk sekolah, bebas bolos, sebebas-sebebasnya. Semenjak penerimaan siswa baru kemarin, aku berubah menjadi sedikit arogan untuk menunjukan eksistensi. Aku sekarang lebih nyaman untuk mengeluarkan baju seragam, bebas dari kakak kelas yang dulunya sering ngebully, dan yang lebih penting bebas dari kekangan orang tua. Mereka gak terlalu ambil pusing dengan dunia sekolahku. Di saat orang tua lain yang sibuk mempersiapkan les privat untuk anaknya, orang tuaku malah sibuk dengan kehidupan bisnis mereka. tapi yah sudahlah, selama uang jajanku masih diperhatikan, aku bersyukur masih bisa hidup tenang.
Selepas dari sekolah, aku hanya menjadi anak rumahan biasa. Berbaur dengan bapak-ibu ketika jam makan, berbagi kamar mandi dengan kakak cewek yang belakangan ini harus sibuk mandi pagi-pagi ke kampus. Yah, aku cuman terpaut satu tahun lebih muda dari mbak Arni. Yah begitu aku memanggilnya, mbak Arni. Dia baru saja mencicipi dunia perkuliahan. Aku bisa melihat betapa exicted nya dia menyetrika baju pagi-pagi, mempersiapkan binder yang bertuliskan Goes to campus, you know how outdated she is. Dia juga sekarang sudah jarang tinggal seharian di rumah, keluyuran bareng teman-teman barunya. Berbeda dengan aku. Aku gak begitu suka bersosialisasi, apalagi sampai harus pergi main bareng teman yang sering aku jumpai di sekolah. Aggghh, sangat membosankan. Tapi aku suka rutinitasku sepulang sekolah. Makan, menghabiskan 15 menit bermain Hp sebentar untuk memastikan makanannya diproses dengan baik. Selepas itu, berbaring sebentar sambil ngotak-ngatik Hp sampai akhirnya tertidur pulas. belakangan ini, suasana makan malam menjadi lebih hidup semenjak Arni mbakku menikmati dunia perkuliahan. Hufft, pasti menyenangkan sekali menjadi mbakku ini. Dia juga terbilang pintar sewaktu SMA, mendapat ranking nilai UN ketiga tertinggi se kabupaten adalah prestasi tersebarnya. Ditambah lagi, dia harus berbangga hati karena bisa merasakan nikmatnya kuliah di kampus idaman, idaman bagi dirinya, bagi bapak-ibu, dan begitu juga bagiku. To be honest, jika dibilang iri, yah tentu saja aku iri. ini sudah dua belas tahun aku merasakan bangku sekolah, tapi gak ada satupun prestasi yang bisa kuberi. Aku gak pernah menyalahkan siapa-siapa, karena yang kutahu mbak Arni gak pernah memohon bantuan dari siapapun untuk mencapai prestasinya, ia berhasil karena prosesnya sendiri.
Disela-sela jam makan malam, mbak arni mulai bercerita tentang teman-temannya di kampus. Ia duduk tepat disampingku. Sementara ibu lebih suka duduk di dekat bapak, untuk berjaga-jaga barangkali bapak meminta tambahan nasi atau lauk.  Bermula dari bapak yang bertanya-tanya, “Bagaimana dengan teman-temanmu? Saya harap mereka bukan apa-apa bagimu.” Sontak pertanyaan itu membuatku sedikit tertegun. Oh my god, bapak bilang apa barusan? Apa gak punya pertanyaan lain yang bisa ditanyakan. Oke, biar aku dengar apa kata mbak Arni setelah ini. “ternyata di luar perkiraanku pak, ku kira di kampus negeri seperti itu gudangnya mahasiswa-mahasiswa cerdas. Ternyata tidak ada bedahnya sewaktu SMA.” Jlep, sumpah aku speechless saat itu. Aku sempat bergulat sebentar dengan pikiranku sendiri, “Tuhan, mengapa aku harus mendengar percakapan ini?” Aku muak dan pergi begitu saja, sembari menenteng piring makan dan berpindah ke sofa tempat biasa aku menghabiskan waktu untuk menonton acara TV kesukaanku. Aku gak mau tahu bagaimana reaksi bapak ketika aku meninggalkan meja makan dengan wajah masam. Selang beberapa menit setelah makananku habis, aku segera beranjak mengembalikan piring ke tempat biasa ibu mencucinya. Aku masih tak  habis pikir, bagaimana bisa pertanyaan semacam itu bisa keluar dari seorang ayah yang seharusnya bisa menimbang dengan baik perkataan mana yang gak patut dibicarakan. Di samping itu aku juga berpikir keras, apakah cuman itu yang bapak inginkan dari anaknya? Aku pikir kebahagianlah yang lebih utama. Ah sudahlah, aku sudah berpikir terlalu jauh. Aku gak boleh curiga berlebihan. Mungkin saja ada maksud baik dibalik pertanyaan bapak tadi.
Gema azan berkumandang dari berbagai penjuru kompleks sekitaran aku dan keluarga kecilku tinggal. Aku lekas bangun, berwudhu dan bergegas menuju masjid. Bapak sudah pergi dahulu sebelum aku keluar dari rumah. Berjarak beberapa meter, aku masih bisa melihat bapak dari jarak dekat dan berbelok menuju gang kecil tempat masjid itu berada. Aku sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, ayam tetangga yang senantiasa berkokok seakan mengenali setiap langkah kaki orang yang berlalu di hadapannya, serta suara perabotan rumah tangga di dapur belakang tempat ibu mempersiapkan sarapan, serta mbak Arni yang sudah bersiap-siap menyetrika baju seperti biasanya. Sementara aku, masih cukup banyak waktu yang bisa kuhabiskan untuk bermain-main sebentar sembari berbaring di atas ranjang. Sebenarnya, tidak ada hal yang begitu menarik perhatianku di sosmed. Aku juga gak begitu suka membaca buku untuk waktu yang cukup lama. aku ditakdirkan seperti ini, hidup yang apatis, bermain games, tidur selepas sekolah, sampai terbangun lagi.

Berbicara tentang dunia asmara, aku pernah bergelut di dalamnya sekali. biarkan aku menceritakan kehidupan asmara pertamaku.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar