Sepanjang Jalan Kenangan
Part I: “Namaku Arman”
A
|
rman, begitu aku memperkenalkan namaku
kepada orang-orang yang baru saja kukenal, terkadang diikuti dengan
pertanyaan-pertanyaan lain, seperti “Arman aja?” atau biasanya teman-teman
arisan ibu yang biasa datang ke rumah sebulan sekali, “Arman ke mana buk? Wah
gak nyangka yah buk sekarang udah SMA aja” sambil tertawa kecil. Padahal ini
sudah tiga tahun berlalu, pertanyaan seperti itu masih saja aku dengar, yah
begitulah. Lain halnya di sekolah, “Ar” atau “Man” teman-teman kelas biasanya memanggil
namaku seperti itu. Sejak SMP aku sudah harus mengenakan kacamata, bukan karena
aku suka membaca buku, tapi memang dari sononya, bapakku juga
berkacamata. Rambut klimis disisir ke
samping, kumis tipis dengan sedikit jenggot di sekitar dagu. But, it doesn’t
mean aku tipe orang yang culun nan kolot. Dengan jumlah siswa yang mencapai
seribuan, adalah hal yang mustahil cowok biasa sepertiku populer di sekolah. Bahkan
sampai sekarang ini pun, gak ada satu pun siswi SMAN 06 Manggarai yang berani
aku dekati. Tapi gak menjadi masalah, selama bapak masih memberi jatah uang
jajan, aku masih bisa survive tanpa dunia percintaan. Biasanya uangnya
gak langsung kupakai untuk makan-makan di kantin, aku harus nunggu seminggu
untuk memastikan duitnya sudah cukup untuk membeli kuota. Yups, games is everything.
But anyway, sekarang aku lebih bebas. Gak ada lagi
yang bangunin pagi-pagi ke sekolah, gak ada yang nanyain PR, Bebas gak harus
mikir terlambat masuk sekolah, bebas bolos, sebebas-sebebasnya. Semenjak penerimaan
siswa baru kemarin, aku berubah menjadi sedikit arogan untuk menunjukan
eksistensi. Aku sekarang lebih nyaman untuk mengeluarkan baju seragam, bebas
dari kakak kelas yang dulunya sering ngebully, dan yang lebih penting
bebas dari kekangan orang tua. Mereka gak terlalu ambil pusing dengan dunia
sekolahku. Di saat orang tua lain yang sibuk mempersiapkan les privat untuk
anaknya, orang tuaku malah sibuk dengan kehidupan bisnis mereka. tapi yah
sudahlah, selama uang jajanku masih diperhatikan, aku bersyukur masih bisa
hidup tenang.
Selepas dari sekolah, aku hanya menjadi
anak rumahan biasa. Berbaur dengan bapak-ibu ketika jam makan, berbagi kamar
mandi dengan kakak cewek yang belakangan ini harus sibuk mandi pagi-pagi ke
kampus. Yah, aku cuman terpaut satu tahun lebih muda dari mbak Arni. Yah begitu
aku memanggilnya, mbak Arni. Dia baru saja mencicipi dunia perkuliahan. Aku bisa
melihat betapa exicted nya dia menyetrika baju pagi-pagi, mempersiapkan binder
yang bertuliskan Goes to campus, you know how outdated she is. Dia
juga sekarang sudah jarang tinggal seharian di rumah, keluyuran bareng
teman-teman barunya. Berbeda dengan aku. Aku gak begitu suka bersosialisasi,
apalagi sampai harus pergi main bareng teman yang sering aku jumpai di sekolah. Aggghh,
sangat membosankan. Tapi aku suka rutinitasku sepulang sekolah. Makan,
menghabiskan 15 menit bermain Hp sebentar untuk memastikan makanannya diproses
dengan baik. Selepas itu, berbaring sebentar sambil ngotak-ngatik Hp sampai
akhirnya tertidur pulas. belakangan ini, suasana makan malam menjadi lebih
hidup semenjak Arni mbakku menikmati dunia perkuliahan. Hufft, pasti
menyenangkan sekali menjadi mbakku ini. Dia juga terbilang pintar sewaktu SMA,
mendapat ranking nilai UN ketiga tertinggi se kabupaten adalah prestasi
tersebarnya. Ditambah lagi, dia harus berbangga hati karena bisa merasakan nikmatnya
kuliah di kampus idaman, idaman bagi dirinya, bagi bapak-ibu, dan begitu juga
bagiku. To be honest, jika dibilang iri, yah tentu saja aku iri. ini
sudah dua belas tahun aku merasakan bangku sekolah, tapi gak ada satupun
prestasi yang bisa kuberi. Aku gak pernah menyalahkan siapa-siapa, karena yang
kutahu mbak Arni gak pernah memohon bantuan dari siapapun untuk mencapai
prestasinya, ia berhasil karena prosesnya sendiri.
Disela-sela jam makan malam, mbak arni
mulai bercerita tentang teman-temannya di kampus. Ia duduk tepat disampingku. Sementara
ibu lebih suka duduk di dekat bapak, untuk berjaga-jaga barangkali bapak
meminta tambahan nasi atau lauk. Bermula
dari bapak yang bertanya-tanya, “Bagaimana dengan teman-temanmu? Saya harap
mereka bukan apa-apa bagimu.” Sontak pertanyaan itu membuatku sedikit
tertegun. Oh my god, bapak bilang apa barusan? Apa gak punya pertanyaan
lain yang bisa ditanyakan. Oke, biar aku dengar apa kata mbak Arni setelah ini.
“ternyata di luar perkiraanku pak, ku kira di kampus negeri seperti itu
gudangnya mahasiswa-mahasiswa cerdas. Ternyata tidak ada bedahnya sewaktu SMA.”
Jlep, sumpah aku speechless saat itu. Aku sempat bergulat
sebentar dengan pikiranku sendiri, “Tuhan, mengapa aku harus mendengar
percakapan ini?” Aku muak dan pergi begitu saja, sembari menenteng piring
makan dan berpindah ke sofa tempat biasa aku menghabiskan waktu untuk menonton
acara TV kesukaanku. Aku gak mau tahu bagaimana reaksi bapak ketika aku
meninggalkan meja makan dengan wajah masam. Selang beberapa menit setelah
makananku habis, aku segera beranjak mengembalikan piring ke tempat biasa ibu
mencucinya. Aku masih tak habis pikir,
bagaimana bisa pertanyaan semacam itu bisa keluar dari seorang ayah yang
seharusnya bisa menimbang dengan baik perkataan mana yang gak patut
dibicarakan. Di samping itu aku juga berpikir keras, apakah cuman itu yang
bapak inginkan dari anaknya? Aku pikir kebahagianlah yang lebih utama. Ah sudahlah,
aku sudah berpikir terlalu jauh. Aku gak boleh curiga berlebihan. Mungkin saja
ada maksud baik dibalik pertanyaan bapak tadi.
Gema azan berkumandang dari berbagai
penjuru kompleks sekitaran aku dan keluarga kecilku tinggal. Aku lekas bangun,
berwudhu dan bergegas menuju masjid. Bapak sudah pergi dahulu sebelum aku
keluar dari rumah. Berjarak beberapa meter, aku masih bisa melihat bapak dari
jarak dekat dan berbelok menuju gang kecil tempat masjid itu berada. Aku sudah
terbiasa dengan suasana seperti ini, ayam tetangga yang senantiasa berkokok
seakan mengenali setiap langkah kaki orang yang berlalu di hadapannya, serta
suara perabotan rumah tangga di dapur belakang tempat ibu mempersiapkan
sarapan, serta mbak Arni yang sudah bersiap-siap menyetrika baju seperti
biasanya. Sementara aku, masih cukup banyak waktu yang bisa kuhabiskan untuk
bermain-main sebentar sembari berbaring di atas ranjang. Sebenarnya, tidak ada
hal yang begitu menarik perhatianku di sosmed. Aku juga gak begitu suka membaca
buku untuk waktu yang cukup lama. aku ditakdirkan seperti ini, hidup yang
apatis, bermain games, tidur selepas sekolah, sampai terbangun lagi.
Berbicara tentang dunia asmara, aku pernah
bergelut di dalamnya sekali. biarkan aku menceritakan kehidupan asmara
pertamaku.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar